jam

Minggu, 21 April 2013

Pernah Mencoba Pisang Nasi Goreng?


YOGYAKARTA, Pisang Nasi Goreng adalah satu menu baru yang dikreasikan di Dapur Santika bagi para penggemar kuliner sehat Indonesia. Jika umumnya nasi goreng menggunakan nasi, lain halnya dengan Pisang Nasi Goreng. Menu yang satu ini menggunakan pisang matang yang setengah tua sebagai bahan utama pembuatannya, tentunya sebagai pengganti nasi.

Ide yang satu ini dikreasikan oleh Ibu Tyas, yang merupakan salah satu juru masak Hotel Santika Premiere Jogja, saat mengikuti lomba masak tahunan yang digelar oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di bulan Febuari 2013.

Pada kesempatan ini, Hotel Santika berhasil memenangkan juara kedua terbaik. "Merupakan prestasi dan kebanggaan yang luar biasa bagi kami. Kuliner lezat ini tentunya dapat dijadikan sajian pilihan bagi keluarga karena, selain kaya akan kandungan serat, vitamin, dan mineral; pisang juga mengandung vitamin B6 dan vitamin C yang tentunya sangat baik untuk meningkatkan kekebalan tubuh," kata Public Relation Hotel Santika Premiere Jogja, Franzesca Mercilia, dalam rilisnya kepada Kompas.com, Kamis (17/4/2013).

Pisang juga memiliki kalium tinggi dan natrium rendah sehingga dapat membantu menjaga tekanan darah dan mencegah stroke. Olahan dari buah pisang juga sangat cocok sekali bagi penderita hipertensi karena mereka dianjurkan untuk mengurangi makanan berkadar garam tinggi. Pisang kaya akan kalium. Kandungan kalium yang tinggi dan kadar garam yang rendah adalah kombinasi yang baik bagi para penderita hipertensi.

Dengan berbagai manfaat yang terkandung dalam pisang inilah, Santika Premiere Jogja mempersembahkan menu sehat pengganti nasi yang dinamakan "Pisang Nasi Goreng" sebagai Chef Suggestion bulan April 2013.

"Olahan nasi goreng pisang ini dilengkapi dengan sate ayam dan telur ceplok serta pelengkap lainnya tanpa menghilangkan citarasa nasi goreng asli. Sangat layak untuk dicicipi. Harganya Rp 60.000," katanya.

Menurut Mercilia, kelezatan Pisang Nasi Goreng bisa dinikmati di Restoran Pandansari. "Ke depan, kami akan terus berinovasi menghasilkan sajian menu lainnya yang baik untuk tubuh dengan menggunakan bahan baku yang sehat," tambah Mercilia. (*)

Kisah Guevara, "Sniper" Perempuan dari Aleppo


DAMASKUS, 
Dalam sebuah perang, banyak hal yang tak dinyana terjadi. Salah satunya kisah seorang perempuan Suriah yang merupakan sniper dan menjadi momok menakutkan bagi pasukan yang setia kepada Bashar al-Assad.

Penembak jitu itu berusia 36 tahun, dan di kalangan pasukan pemberontak dikenal hanya dengan nama Guevara, mengambil nama tokoh revolusioner asal Argentina, Ernestio "Che" Guevara.

Di masa damai, Guevara adalah seorang guru bahasa Inggris yang duduk di dalam sebuah kelas di Aleppo, Suriah.

Namun, kini dengan mengenakan jaket, celana panjang berwarna hijau, tetap mengenakan jilbab, Guevara duduk di reruntuhan bangunan, menunggu munculnya pasukan pemerintah, sebelum dia melepaskan tembakan.

Mengapa seorang perempuan lembut yang pernah menjadi guru itu kini berubah 180 derajat menjadi seorang pejuang yang siap membunuh kapan saja?

Rupanya Guevara—yang enggan menyebut nama aslinya—termotivasi kematian kedua anaknya beberapa bulan lalu. 

Kedua anaknya itu, seorang putri berusia 10 tahun dan putra berusia 7 tahun, tewas saat serangan udara pasukan pemerintah menghantam kediaman keluarga Guevara.

Kehilangan kedua buah hatinya membuat Guevara menyimpan bara amarah. Kini, dia merasa lega setiap kali peluru yang dilepaskannya membunuh seorang prajurit pasukan pemerintah.

"Pekerjaan" barunya ini, kata Guevara, membutuhkan kesabaran, kecepatan, dan kecerdasan. Tak jarang dia harus duduk berjam-jam menunggu jalanan kosong dari warga sipil yang kemudian digantikan pasukan pemerintah.

Jika tiba saatnya harus menembak, maka Guevara mengatakan dia memiliki target membunuh empat atau lima anggota pasukan Pemerintah Suriah dalam sehari.

"Menembak mereka membuat saya merasa lega. Setiap kali saya bisa mengenai satu tentara, saya selalu berteriak 'yes!'," katanya.

Darah Palestina

Memiliki darah Palestina, si penembak jitu itu kepada harian Telegraph mengatakan, perkenalan pertamanya dengan senjata adalah di kamp pelatihan militer di Lebanon yang dikelola kelompok militan Palestina, Hamas.

Bahkan jauh sebelum pemberontakan terhadap rezim Bashar al-Assad pecah pada musim semi 2011, Guevara mengatakan dia sudah menentang Assad dengan menerbitkan surat kabar oposisi saat kuliah di Universitas Aleppo.

Dia bahkan menjadi anggota organisasi politik bawah tanah untuk warga Palestina yang terus merencanakan penggulingan rezim Assad.

Pernikahan pertamanya kandas karena suaminya bukanlah seorang revolusioner seperti dirinya. Saat sang suami mencegahnya berjuang, Guevara bahkan mengancam akan meninggalkan suaminya dan menikahi komandan pemberontak.

Meski kini menjadi seorang sniper, Guevara tetaplah seorang perempuan. Dia mengatakan kerap terjaga di tengah malam dan menangisi kematian kedua buah hatinya dan semua kekerasan yang telah dia saksikan.

Satu-satunya kebahagiaannya kini adalah pekerjaan berbahaya yang dilakukannya sekarang.

"Saya suka bertempur. Saat saya melihat satu teman dalam divisi saya tewas, maka saya harus membalaskan dendamnya," ujar Guevara.